Pemalang – Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, memiliki potensi besar di dua sektor strategis: pangan dan energi terbarukan (EBT). Kedua sektor ini menjadi penopang utama arah kebijakan ekonomi hijau yang sedang digencarkan pemerintah provinsi, terutama melalui forum investasi Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2025.
Dengan posisi geografis Pemalang memiliki kawasan pantai di utara, dataran rendah produktif di tengah, dan perbukitan di selatan, menyimpan kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Dari hamparan sawah hingga sumber energi alami, Pemalang berpeluang besar menjadi pusat agroindustri hijau di Jawa Tengah bagian barat.
Lumbung Pangan Utama Jawa Tengah
Sektor pangan menjadi tulang punggung ekonomi Pemalang. Berdasarkan data Dinas Pertanian Pemalang dan BPS Jawa Tengah, luas lahan sawah produktif di daerah ini mencapai ±35.528 hektar, dengan 30.299 hektar di antaranya merupakan lahan beririgasi teknis.
Produksi padi tahun 2023 mencapai ±384.390 ton gabah kering giling (GKG) dengan produktivitas sekitar 5,21 ton per hektar dan indeks pertanaman mencapai 208, artinya dalam setahun rata-rata bisa dua kali panen.
Pencapaian ini menempatkan Pemalang sebagai daerah penyangga pangan penting bagi Jawa Tengah, khususnya dalam pasokan beras di wilayah pantura. Selain padi, komoditas hortikultura seperti mangga istana Penggarit, durian Randudongkal, dan alpukat Moga turut memperkuat citra Pemalang sebagai daerah agraris unggulan.
Potensi Energi Terbarukan
Selain pangan, Pemalang juga menyimpan potensi energi baru terbarukan yang besar. Kawasan ini memiliki intensitas penyinaran matahari rata-rata 4,8–5,1 kWh/m²/hari, sangat ideal untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Salah satu contoh nyata penerapannya terdapat di Desa Mojo, Kecamatan Ulujami, di mana PLTS skala kecil sudah dimanfaatkan untuk penerangan dan pompa air. Program ini dilakukan bekerja sama dengan Universitas Diponegoro melalui riset energi bersih terapan.
Di sisi lain, wilayah selatan seperti Moga, Belik, dan Pulosari memiliki aliran sungai dengan potensi untuk dikembangkan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dengan kapasitas daya hingga 1–2 MW. Kajian potensi tersebut tercantum dalam laporan Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah 2023, yang menempatkan Pemalang dalam zona prioritas pengembangan mikrohidro di Jawa Tengah bagian barat.
Sementara limbah pertanian seperti sekam padi dan jerami dapat dimanfaatkan menjadi biomassa untuk sumber energi industri kecil dan rumah tangga.
Potensi ini membuat Pemalang masuk dalam zona prioritas pengembangan energi bersih Jawa Tengah. Pemerintah provinsi menargetkan kontribusi EBT di wilayahnya mencapai 21 persen pada 2025, dan Pemalang menjadi salah satu daerah yang berpeluang besar mendorong pencapaian target tersebut.
Sinergi Pangan dan Energi untuk Ekonomi Hijau
Keterkaitan antara sektor pangan dan energi di Pemalang memberi peluang terciptanya ekonomi hijau berbasis desa. Limbah pertanian yang biasanya tidak dimanfaatkan kini bisa diolah menjadi biomassa, sementara energi surya dan mikrohidro dapat digunakan untuk mendukung pengolahan pangan lokal. Strategi ini menjadi model green agroindustry, di mana pertanian dan energi bersih saling menopang dalam menciptakan nilai ekonomi baru di daerah.
Secara nyata, Pemalang memiliki dua kekuatan besar: pangan yang produktif dan energi terbarukan yang potensial. Dua sektor ini bukan hanya menopang ketahanan ekonomi lokal, tetapi juga menjadi pondasi penting dalam strategi pembangunan berkelanjutan Jawa Tengah. Dengan dukungan kebijakan investasi dan kerja sama lintas sektor, Pemalang berpotensi besar menjadi ikon ekonomi hijau dan ketahanan pangan di Indonesia bagian tengah. (Ep)
Sumber Data Resmi:
- Dinas Pertanian Kabupaten Pemalang, Laporan Produksi Pangan 2023–2024
- BPS Jawa Tengah, Statistik Daerah Kabupaten Pemalang 2024
- Pemkab Pemalang, Berita Resmi Penyangga Pangan & Kawasan Industri Pangan Halal, pemalangkab.go.id, 2025
- Jurnal EBT UNDIP (2024), Pemanfaatan PLTS di Desa Mojo, Ulujami, Pemalang
- Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah (2023), Pemetaan Potensi Mikrohidro Wilayah Jateng
- Antara Jateng (2023), Potensi Energi Terbarukan Belum Dikelola Optimal
