Pemalang – Perjalanan kuliner kali ini membawa langkah ke Comal, sebuah kecamatan di timur Pemalang yang terkenal dengan jajanan tradisional legendaris: Apem Comal. Saat kecil, sekitar tahun 70-an, saya sudah sering menyantap kue ini. Kenangan masa itu masih teringat, ketika aroma apem hangat hadir di meja saat lebaran Idul Fitri.
Dari luar, kue bulat pipih berwarna cokelat muda dan beralaskan daun pisang ini mungkin tampak sederhana. Namun, begitu dicicip, rasa manis, asam, dan legitnya berpadu sempurna dengan aroma fermentasi khas. Apalagi jika disantap bersama taburan kelapa parut dan siraman areh atau santan kental, sensasinya bikin ingin nambah lagi.
Apem Comal dibuat dari campuran tepung beras, santan kental, gula Jawa, tepung tapioka, ragi, dan sedikit garam. Adonan ini harus didiamkan semalaman untuk menghasilkan tekstur lembut dan aroma khas yang tak bisa ditiru instan. Setelah itu, adonan dikukus dalam cetakan khusus hingga matang.
Lebih dari sekadar camilan, apem juga sarat makna. Kata apem diyakini berasal dari bahasa Arab afwan yang berarti “maaf”. Tak heran, apem kerap disajikan dalam acara adat Jawa, terutama pada momen kebersamaan dan saling memaafkan seperti hari raya Idul Fitri.
Menyusuri pasar tradisional Comal, aroma apem yang baru matang langsung menyapa indera penciuman. Penjual dengan ramah menawarkan apem hangat yang baru keluar dari kukusan. Harganya pun sangat terjangkau, hanya Rp1.500 per buah. Jika ingin membawa pulang dalam jumlah banyak, pembeli bisa meminta dikemas dalam besek bambu dengan tambahan harga wadah. “Monggo, silakan dicoba. Satu Rp1.500 saja,” ujar seorang pedagang sambil tersenyum.
Bagi wisatawan yang mampir ke Pemalang, jangan hanya singgah di pantai atau alun-alun kotanya. Luangkan waktu untuk menelusuri jajanan khas Comal dan cicipi apem legendaris ini. Dijamin, rasa manis asam legitnya bakal jadi cerita kuliner yang tak mudah dilupakan. (An)
