Saat Senyum Petani Pulosari Sumringah Bersama Turunnya Bantuan Cukai Tembakau

BLT DBHCHT, disalurkan sebagai jaring pengaman ekonomi bagi petani tembakau lereng Slamet

Pemalang – Balai Desa Cikendung di Kecamatan Pulosari tampak ramai pada Jumat pagi (26/9/2025). Warga berduyun-duyun datang, sebagian besar petani tembakau dan keluarganya. Hari itu, Pemerintah Kabupaten Pemalang menyalurkan Bantuan Langsung Tunai Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (BLT DBHCHT) Tahun Anggaran 2025.

Bantuan diserahkan oleh Bupati Pemalang Anom  Widiyantoro. Anom menegaskan, BLT DBHCHT yang disalurkan adalah wujud perhatian pemerintah terhadap masyarakat yang kesehariannya bersinggungan dengan industri hasil tembakau.

Pulosari sendiri dikenal sebagai salah satu kantong tembakau di Pemalang selain Belik. Wilayah di lereng Gunung Slamet ini sudah puluhan tahun menjadi ladang subur bagi petani kecil. Tembakau rakyat dari Pulosari, meski tidak sebesar produksi Temanggung atau Wonosobo, punya aroma khas yang digemari pasar lokal.

Namun perjalanan para petani tidak selalu mulus. Mereka kerap bergantung pada musim kemarau, terjebak fluktuasi harga, hingga harus bersaing dengan tembakau dari daerah lain. Belum lagi ancaman gagal panen akibat cuaca yang semakin sulit ditebak. Dalam kondisi seperti inilah, program BLT DBHCHT terasa relevan sebagai penopang ekonomi rumah tangga petani tembakau.

Lalu, apa sebenarnya BLT DBHCHT itu? Singkatnya begini: setiap tahun pemerintah pusat menarik cukai dari produk tembakau, rokok, cerutu, tembakau iris, sampai olahan lainnya. Sebagian dana dikembalikan ke daerah penghasil dalam bentuk DBHCHT. Dana ini tidak hanya untuk kesehatan atau pengawasan rokok ilegal, tetapi juga disalurkan langsung ke masyarakat terdampak dalam bentuk BLT.

Sasarannya jelas: petani tembakau, buruh pabrik rokok, hingga masyarakat miskin di kawasan penghasil tembakau. Bantuan diberikan tunai, dengan besaran yang berbeda-beda sesuai alokasi APBD tiap daerah. Ada yang menyalurkan Rp300 ribu per bulan, ada pula yang menggabungkannya dalam jumlah lebih besar sekaligus.

Tujuan akhirnya, menjadi jaring pengaman sosial. Uang cukai yang masuk kas negara, kini kembali ke rakyat, terutama mereka yang hidup dari tembakau.

Bagi para petani di Pulosari, BLT DBHCHT bukan sekadar bantuan, melainkan angin segar di tengah ketidakpastian musim dan harga. Sebuah tanda bahwa jerih payah mereka masih dihargai, dan ada tangan pemerintah yang berusaha menjaga mereka tetap bertahan. (An)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *