Menakar Daya Saing Mangga Istana di Pasar Buah Premium

Pemalang – Mangga Istana dari Pemalang kini menjadi salah satu komoditas hortikultura potensial Indonesia. Berdasarkan analisis redaksi yang merujuk pada data Kementerian Pertanian (BPS, 2023), tren konsumsi buah premium di dalam negeri meningkat rata-rata 8–10% per tahun, terutama di wilayah perkotaan. Kondisi ini memberikan peluang besar bagi produk seperti Mangga Istana yang memiliki karakter khas.

Menurut data dari Pemerintah Kabupaten Pemalang, Desa Penggarit memiliki sekitar 11.000 pohon Mangga Istana, dan jumlahnya terus bertambah seiring meningkatnya permintaan. Secara keseluruhan, Kabupaten Pemalang kini memiliki lebih dari 116.000 pohon Mangga Istana yang menjadi tumpuan ekonomi baru bagi petani setempat. Dengan asumsi setiap pohon mampu menghasilkan rata-rata 2 kuintal buah per musim panen, total produksi Mangga Istana di Pemalang diperkirakan mencapai 23.200 ton per tahun.

Kepala Desa Penggarit menyebut bahwa komoditas ini tidak lagi hanya untuk pasar lokal. “Mangga Istana kini sudah menembus pasar luar negeri seperti Singapura, Kanada, Amerika Serikat, dan Vietnam,” ujarnya dalam Festival Mangga.

Potensi Pasar Nasional

Mangga Istana berpotensi masuk ke pasar modern seperti supermarket, hotel, restoran, dan kafe (HORECA). Dengan standar pengemasan higienis dan sertifikasi mutu, misalnya Sertifikasi Keamanan Pangan Segar Asal Tumbuhan (PSAT), harganya bisa mencapai Rp40.000–60.000 per kilogram, dua hingga tiga kali lipat dari harga mangga lokal biasa.
Data dari Badan Pangan Nasional (2024) juga menunjukkan bahwa permintaan mangga premium meningkat 12% dalam tiga tahun terakhir di pasar Jakarta dan Surabaya, sehingga peluang distribusi produk dari Pemalang semakin terbuka.

Potensi Ekspor Internasional

Saat ini mangga Istana telah berhasil menembus pasar ekspor ke Singapura, Kanada, Amerika Serikat, dan Vietnam. Negara-negara tersebut termasuk dalam 10 besar pengimpor buah tropis Asia Tenggara menurut FAO (2023), dengan pertumbuhan impor mangga mencapai 9% per tahun.

Mangga Istana memiliki umur simpan 7–10 hari dan tekstur tidak mudah rusak, sehingga cocok dikirim melalui jalur udara atau laut berpendingin. Jika sistem rantai dingin (cold chain) diterapkan secara konsisten, potensi ekspornya dapat meningkat hingga 30% dalam lima tahun, mengacu pada data ekspor hortikultura Kemendag (2024).

Kendati potensinya besar, tantangan utama yang dihadapi adalah konsistensi mutu dan skala produksi. Menurut Dinas Pertanian Pemalang, petani masih menghadapi masalah musim panen serentak, fluktuasi harga, dan minimnya fasilitas pascapanen seperti cold storage dan rumah sortasi.
Untuk itu, diperlukan pembentukan sentra pengemasan ekspor berbasis koperasi petani yang bisa mengatur standardisasi mutu, sistem grading buah, serta pengawasan kualitas.
Selain itu, upaya pendaftaran Indikasi Geografis (IG) Mangga Istana Penggarit perlu segera dilakukan. Dengan IG, Mangga Istana akan memiliki pengakuan hukum nasional dan internasional yang memperkuat branding daerah, seperti halnya Kopi Gayo atau Salak Pondoh Sleman (Kemenkumham, 2023).

Jika program penguatan mutu, sertifikasi, dan ekspor diterapkan secara terpadu, Mangga Istana Pemalang berpotensi menjadi ikon ekspor buah tropis Jawa Tengah pada tahun mendatang dan membuka peluang investasi baru di sektor agribisnis, pariwisata desa, dan industri olahan buah. (Ep)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *