Masjid Raya Bang Haji, Ikon Unik di Tol Cipali

Masjid yang digagas oleh Adang Wijaya, putra Pemalang, dibangun khusus untuk para musafir yang singgah di rest area.

Majalengka – Pernahkah Anda melihat masjid megah di rest area berbentuk peci haji? Itulah konsep unik dari Masjid Raya Bang Haji, yang berarsitektur ikonik dengan kubah putih berbentuk peci haji di Rest Area KM 164 B Tol Cipali, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Masjid yang digagas oleh Adang Wijaya, putra Pemalang, ini awalnya memang dirancang tanpa kotak infak. Namun, konsep tersebut justru memicu protes dari sejumlah jamaah yang ingin beramal.

“Ini karena masukan dari beberapa jamaah bila kita tidak menyiapkan kotak infak menjadikan kita menutup diri kepada jamaah yang ingin berbuat baik untuk berinfak”, ujar Adang

Setelah akhirnya kotak infak dibuka, hasilnya cukup mengejutkan. Setiap hari dana yang terkumpul jumlahnya besar, sehingga bisa digunakan untuk meningkatkan pelayanan masjid sekaligus kesejahteraan marbot.

“Infak yang masuk setiap hari cukup besar, sehingga kami terus meningkatkan layanan bagi jamaah yang singgah di masjid. Sekaligus kami bisa meningkatkan kesejahteraan para marbot, ” tambah Adang.

Sementara itu Ketua Yayasan Khasanah Masjid Madani, Ghassan Amanullah Wijaya, mengatakan masjid dengan luas 750 meter persegi, memiliki dua lantai, dan mezzanine, masjid ini mampu menampung hingga 1.500 jamaah. Kubah putihnya memiliki filosofi mendalam: simbol haji mabrur yang diharapkan membawa peningkatan ibadah.

Masjid Raya Bang Haji ini dibangun khusus untuk para musafir yang singgah di rest area. Rest Area KM 164 B disebut sebagai “titik lelah” bagi mereka yang kembali dari mudik atau perjalanan jauh.

“Kita muliakan orang safar. Karena itu masjid di sini kami buat bagus dan nyaman,” jelas Ghassan.

Masjid ini juga dilengkapi area bermain anak, fasilitas ramah difabel, dan ruang istirahat, sehingga semakin ramah bagi pengunjung.

Di area sekitar masjid juga terdapat kios kios yang berjualan makanan dan minuman serta perlengkapan ibadah yang disediakan pengelola masjid.

Dengan berbelanja di kios-kios tersebut, maka kaum safar sudah berkontribusi untuk operasional masjid sekaligus mendukung pemberdayaan ekonomi umat. “Dengan begitu, kita bisa menghidupkan ekosistem ekonomi sosial dan spiritual sekaligus. Uang yang kita belanjakan bisa digunakan untuk menghidupi para pedagang yang ada di sana,” ujarnya. (Aa)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *