Festival Sarung Goyor 2025: Saat Kain Tradisional Jadi Gaya Hidup Kekinian di Pemalang

Tahun ini, karnaval Fesago diikuti oleh 36 RT dengan total sekitar tiga ribu peserta.

Pemalang – Festival Sarung Goyor (Fesago) 2025 di Desa Wanarejan Utara, Kabupaten Pemalang, menjelma menjadi pesta rakyat penuh warna yang memadukan warisan budaya, kreativitas warga, dan potensi wisata ekonomi kreatif.

Selama tiga hari penyelenggaraan, 3–5 Oktober 2025, Lapangan Desa Wanarejan Utara berubah menjadi lautan warna. Ribuan warga berpawai dalam Karnaval Sarung Goyor, menampilkan beragam motif dan gaya busana khas Pemalang. Setiap langkah, hentakan musik hadroh, hingga tawa anak-anak yang mengikuti lomba mewarnai menjadi bukti bahwa sarung goyor bukan sekadar kain, melainkan identitas budaya.

Bupati Pemalang Anom Widiyantoro yang hadir dan membuka acara menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk membawa sarung goyor menembus pasar internasional. Menurutnya, sarung goyor bukan hanya produk tekstil, tetapi simbol kerja keras, ketekunan, dan kreativitas masyarakat Pemalang.

Pemerintah Kabupaten Pemalang siap membantu promosi dan perluasan pasar agar produk ini dapat memberi dampak ekonomi yang lebih besar. “nanti kita coba bantu untuk ke pasar yang lebih luas dan memberi efek perekonomian yang luar biasa sehingga sarung goyor bisa mendunia,” ujar Bupati Anom.

Kepala Desa Wanarejan Utara, Mahmud, menjelaskan bahwa sekitar 80 persen warganya merupakan pengrajin atau pengusaha sarung goyor. Karena itu, Fesago menjadi momentum penting untuk mengangkat semangat masyarakat dan memperluas jaringan pemasaran. Ia berharap ke depan, sarung goyor tak hanya dikenal di Asia Tenggara, tetapi juga dapat menembus pasar Afrika dan benua lainnya.

Tahun ini, karnaval Fesago diikuti oleh 36 RT dengan total sekitar tiga ribu peserta. Tiap RT menampilkan kreativitas terbaiknya melalui berbagai kostum dan kreasi bertema sarung goyor, menjadikan acara ini penuh warna dan semangat kebersamaan.

Melalui kegiatan ini, Pemkab Pemalang ingin menegaskan komitmennya dalam mendukung UMKM lokal agar terus berkembang. Harapannya, sarung goyor tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga sumber penghidupan dan kebanggaan ekonomi masyarakat Pemalang.(*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *