Bank Indonesia Antar UMKM Sapu Rayung Pemalang Menembus Pasar Asia dan Eropa

Pemalang – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tegal terus memperkuat peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai penggerak ekonomi daerah. Melalui pendampingan berkelanjutan, salah satu UMKM binaannya di Kabupaten Pemalang berhasil naik kelas dan menembus pasar ekspor.

UMKM tersebut adalah CV Indo Rayung Nusantara, produsen sapu rayung berbahan serat rayung atau pelepah rumput gelagah yang berlokasi di Desa Cikadu, RT 006 RW 002, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang. Usaha yang berdiri sejak 2022 ini memanfaatkan potensi lokal tanaman rayung yang tumbuh subur di wilayah selatan Pemalang.

Direktur CV Indo Rayung Nusantara, Abdul Mujib Rifai, menjelaskan bahwa sapu rayung produksi perusahaannya kini diminati pasar luar negeri karena menggunakan bahan baku alami, ramah lingkungan, dan menerapkan konsep zero waste atau UMKM hijau.

“Produk kami berbahan alam, ramah lingkungan, dan diproduksi dengan pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan. Ini menjadi nilai tambah yang diminati pasar domestik maupun internasional,” ujar Abdul Mujib.

Saat ini, Indo Rayung Nusantara memberdayakan sekitar 120 tenaga kerja perempuan dengan kapasitas produksi mencapai 25.000 hingga 50.000 sapu per bulan. Pada 2024, produk sapu rayung asal Pemalang tersebut telah diekspor ke sejumlah negara Asia dan Eropa.

Peran Strategis Bank Indonesia

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari pendampingan intensif KPwBI Tegal. Berbagai fasilitasi diberikan, mulai dari Business Matching Ekspor dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2025, keikutsertaan dalam Export Coaching Program (ECP) Jawa Tengah bersama Kementerian Perdagangan RI, hingga Business Matching Pembiayaan 2025 dengan salah satu bank Himbara.

Selain itu, Bank Indonesia juga memberikan dukungan berupa capacity building pemasaran digital, penguatan kesiapan ekspor, serta fasilitasi promosi perdagangan di dalam dan luar negeri.

“Dukungan Bank Indonesia sangat besar, mulai dari pembinaan, bantuan alat penunjang, hingga keikutsertaan dalam pameran dan trade expo berskala nasional dan internasional,” ungkap Abdul Mujib.

Potensi Bahan Baku Melimpah

Menurut Abdul Mujib, tanaman gelagah sebagai bahan baku sapu rayung memiliki potensi yang sangat besar dan berkelanjutan. Dalam satu tahun, tanaman tersebut dapat dipanen hingga tiga kali dengan total produksi mencapai sekitar 3.000 ton per tahun, sehingga mampu memenuhi kebutuhan pasar ekspor tanpa kekhawatiran kekurangan bahan baku.

Hingga saat ini, jaringan ekspor sapu rayung Pemalang telah menjangkau tujuh negara, yakni India, Pakistan, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Prancis. Selain itu, ekspansi pasar ke Taiwan masih dalam tahap penjajakan.

“Bank Indonesia sudah mendampingi kami sejak awal usaha dirintis, bukan ketika usaha sudah berjalan setengah jalan. Pendampingan dari awal inilah yang membuat kami bisa tumbuh dan sukses seperti sekarang,” pungkas Abdul Mujib. (An)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *