Pemalang – Banjir bandang menerjang Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, pada Jumat malam hingga Sabtu dini hari (23–24 Januari 2026). Peristiwa ini menjadi salah satu bencana terparah di wilayah selatan Pemalang dalam beberapa tahun terakhir, menyebabkan ribuan warga terpaksa mengungsi dan merusak puluhan rumah serta infrastruktur desa.
Air Datang Bertubi-tubi dari Hulu Gunung Slamet
Menurut keterangan warga, banjir bandang datang secara berulang dalam beberapa gelombang. Air pertama mulai memasuki permukiman warga sekitar pukul 17.30 WIB, disusul gelombang berikutnya pada malam hari. Puncak banjir terjadi sekitar pukul 02.00 WIB, ketika arus deras membawa lumpur, batu besar, serta batang kayu dari arah hulu lereng Gunung Slamet.
“Air datang cepat dan kuat. Bukan sekali, tapi berkali-kali. Yang paling parah itu dini hari,” ujar salah satu warga Desa Penakir.
Ribuan Warga Mengungsi, Rumah dan Jembatan Rusak
Akibat banjir bandang tersebut, lebih dari 1.000 warga dari sejumlah dusun di Desa Penakir terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, seperti balai desa, sekolah, dan posko darurat. Sejumlah rumah warga dilaporkan rusak berat, rusak sedang, bahkan hanyut, sementara akses jalan desa tertutup lumpur dan material banjir.
Selain permukiman, jembatan dan fasilitas umum juga mengalami kerusakan, sehingga menghambat mobilitas warga dan distribusi bantuan. Tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, relawan, dan pemerintah daerah dikerahkan untuk melakukan evakuasi, pembersihan material banjir, serta pendataan kerusakan.
Pemerintah Kabupaten Pemalang menetapkan status tanggap darurat bencana untuk mempercepat penanganan dan penyaluran bantuan kepada warga terdampak. Bantuan logistik berupa beras, makanan siap saji, selimut, kasur, tenda, dan kebutuhan dasar lainnya mulai disalurkan ke lokasi pengungsian. (An)
