Yogyakarta – Setiap napas, setiap teguk air, bahkan setiap gigitan makanan yang kita nikmati kini membawa ancaman tak kasatmata bernama mikroplastik. Partikel berukuran kurang dari lima milimeter ini bukan sekadar sampah laut; ia telah menyusup ke dalam tubuh manusia, mengubah sistem pencernaan, dan bahkan berpotensi memicu depresi hingga kanker kolorektal.
Hasil penelitian terbaru dari Center for Biomarker Research in Medicine, Austria, menunjukkan bahwa paparan mikroplastik mampu mengubah mikrobioma usus manusia, komponen penting yang menjaga keseimbangan kesehatan tubuh dan mental. Temuan ini membuka mata banyak peneliti, termasuk Dr. Annisa Utami Rauf, dosen dan peneliti kesehatan lingkungan di FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM).
“Saat ini mikroplastik sudah ada di mana-mana, di udara, makanan, dan air yang kita minum. Mengendalikannya tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan, tapi juga perubahan perilaku setiap individu.” ujar Annisa.
Annisa mengingatkan, tantangan utama justru terletak pada gaya hidup masyarakat yang masih bergantung pada plastik sekali pakai. Kantong belanja, kemasan makanan daring, hingga air minum galon dan depot isi ulang menjadi sumber utama masuknya mikroplastik ke tubuh.
Penelitian yang ia kutip mengungkap fakta mencengangkan: rata-rata orang Indonesia menelan sekitar 15 gram mikroplastik setiap bulan. Angka ini menjadikan Indonesia salah satu negara dengan tingkat paparan tertinggi di dunia.
“Perubahan sederhana seperti membawa tumbler sendiri, menghindari air kemasan sekali pakai, dan memakai wadah yang bisa digunakan ulang bisa memberi dampak besar,” tambahnya. Di UGM, misalnya, gerakan hijau sudah diterapkan melalui fasilitas Toyagama, yang menyediakan akses air minum isi ulang di berbagai titik kampus.
Namun, Annisa juga mengingatkan bahwa tidak semua air isi ulang aman. Beberapa penelitian menemukan kandungan mikroplastik jenis HDPE dan PET pada wadah galon dan botol isi ulang. Karena itu, ia menilai perlu ada kebijakan nasional yang lebih ketat mengenai standar kemasan air minum dan bahan plastik yang beredar di masyarakat.
Di sisi lain, penelitian tentang mikroplastik masih menghadapi keterbatasan. Banyak laboratorium di Indonesia belum memiliki fasilitas lengkap untuk menganalisis dampaknya secara menyeluruh terhadap tubuh manusia. “Data ilmiah kita masih belum merata. Tapi yang jelas, dampaknya nyata dan terus bertambah,” katanya.
Meski begitu, harapan belum hilang. Sejumlah riset baru menunjukkan adanya mikroba alami yang mampu mendegradasi molekul plastik di lingkungan. Namun, bagi Annisa, solusi paling penting tetap dimulai dari akar masalah menghentikan aliran plastik sejak dari sumbernya.
“Jika tidak dikendalikan sekarang, mikroplastik akan terus menumpuk dalam rantai makanan dari laut, ladang, hingga meja makan kita,” tutupnya. (Yud)
