Petai: Si Bau yang Kaya Manfaat, Dari Meja Makan ke Produk Kesehatan

Oleh: E Priyono

Di banyak dapur Nusantara, aroma petai sering memancing dua reaksi sekaligus: wajah yang spontan meringis, atau senyum para pecinta sambal yang tahu betul kenikmatannya. Namun di balik bau menyengatnya, siapa sangka tanaman bernama ilmiah Parkia speciosa Hassk. ini semakin menarik perhatian para ilmuwan.

Sebuah jurnal yang diterbitkan tahun 2013 oleh tim peneliti dari Universiti Kebangsaan Malaysia membuktikan bahwa petai bukan sekadar pelengkap nasi panas atau sambal terasi. Dalam sebuah kajian komprehensif yang diterbitkan oleh Hindawi Publishing Corporation, petai justru hadir sebagai kandidat kuat fitomedisin masa depan (produk kesehatan yang berasal dari tanaman).

Petai tumbuh melimpah di wilayah tropis seperti Indonesia, Malaysia, Thailand hingga Filipina. Pohonnya bisa menjulang hingga 40 meter, sementara bijinya berwarna hijau dengan aroma khas, menjadi ikon kuliner Asia Tenggara.

Namun perjalanan petai tidak lagi berhenti di dapur. Dalam laboratorium, biji dan polongnya dibedah dengan cermat. Hasilnya mencengangkan: petai menyimpan polifenol, fitosterol, flavonoid, hingga senyawa antibakteri yang selama ini justru dimanfaatkan industri kesehatan.

“Potensinya sangat besar,” tulis para peneliti dalam laporan itu. “Bahan aktifnya bekerja sebagai antioksidan dan beberapa di antaranya menunjukkan aktivitas antikanker.”

Kaya Nutrisi, Kaya Cerita

Para peneliti menemukan bahwa petai mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin C, vitamin E, dan vitamin B1 dalam jumlah signifikan. Mineral seperti magnesium, kalsium, fosfor hingga kalium ada dalam komposisi yang membuatnya pantas disebut superfood lokal.

Senyawa seperti β-sitosterol dan stigmasterol dilaporkan berperan dalam menurunkan gula darah. Adapun kandungan lupeol dikenal memiliki efek antiperadangan dan antikarsinogenik. Bahkan senyawa cyclic polysulfide yang menjadi penyebab aroma menyengat petai, ternyata memberi karakter antibakteri.

Uniknya lagi, ketika petai direbus, kadar thiazolidine-4-carboxylic acid senyawa dengan potensi antikanker justru meningkat.

Warisan Tradisional yang Teruji Ilmiah

Di banyak kampung, petai sudah lama dipercaya sebagai ramuan alami untuk mengatasi diabetes, sakit kepala, hingga gangguan ginjal. Kini, keyakinan yang diwariskan turun-temurun itu mendapat dukungan dari pendekatan sains modern.

Meski begitu, para peneliti tetap mengingatkan bahwa konsumsi berlebihan terutama oleh anak-anak perlu diperhatikan karena kandungan tannin dapat menghambat penyerapan protein.

Menuju Fitomedisin Berbasis Petai

Dengan meningkatnya minat terhadap obat herbal dan bahan alam, penelitian terhadap petai membawa harapan baru. Jika riset lanjutan mengonfirmasi keamanan dan efektivitasnya, bukan tidak mungkin suatu hari petai akan hadir bukan lagi sekadar dalam sambal goreng, tetapi dalam bentuk kapsul, ekstrak herbal, atau suplemen kesehatan.

Dan pada saat itu terjadi, petai mungkin akan meninggalkan jejak baru, bukan hanya pada mulut yang beraroma khas, tapi juga pada dunia pengobatan modern.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *