Pemalang – Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, perlahan tapi pasti mulai menegaskan dirinya sebagai pemain baru dalam peta ekonomi pariwisata berbasis desa. Dengan topografi yang membentang dari garis pantai utara Jawa hingga lereng Gunung Slamet di selatan, Pemalang menyimpan keragaman potensi wisata yang tidak semua dimiliki daerah lain dengan perpaduan antara alam, budaya, dan ekonomi rakyat.
Langkah-langkah pembangunan desa wisata yang digerakkan oleh Pemerintah Kabupaten Pemalang melalui Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) menunjukkan arah yang jelas: membangkitkan ekonomi lokal dari bawah. Hingga 2024, tercatat 27 desa wisata aktif yang diklasifikasikan dalam tiga kategori: maju, berkembang, dan rintisan. Program ini bukan hanya menyiapkan desa sebagai destinasi, tetapi juga sebagai motor ekonomi baru pascapandemi.
Pemalang memiliki tiga zona wisata dengan karakter ekonomi yang berbeda namun saling melengkapi.
Zona utara menonjol dengan wisata bahari dan kuliner laut, seperti Desa Mojo dan Tasikrejo yang dikenal dengan tambak udang dan bandengnya.
Zona tengah menjadi pusat kebudayaan dan produk khas, contohnya Desa Penggarit dengan Mangga Istana dan festival tahunannya, serta Desa Surajaya yang aktif menggelar atraksi budaya dan wisata kuliner.
Sementara zona selatan, di sekitar Pulosari dan Sikasur, menawarkan wisata alam, kopi pegunungan, serta agrowisata edukatif.
Rantai ini menciptakan ekosistem wisata berlapis dari laut ke gunung yang mendorong sirkulasi ekonomi secara horizontal antarwilayah. Ini menjadi keunikan tersendiri di jalur Pantura Jawa Tengah.
Pariwisata Desa sebagai Penggerak Ekonomi
Berdasarkan data BPS Pemalang (2024), kontribusi ekonomi pariwisata desa terhadap PDRB daerah meningkat 6–8 persen per tahun sejak 2021. Pertumbuhannya tak hanya berasal dari tiket wisata, tetapi juga dari aktivitas ekonomi turunannya: homestay, warung, transportasi lokal, hingga kerajinan.
Kehadiran wisatawan juga menciptakan efek ganda, membuka lapangan kerja informal, menumbuhkan UMKM, dan memicu investasi kecil-menengah di sektor kuliner dan edukasi wisata. Dengan kata lain, desa wisata kini menjadi “mesin ekonomi baru” yang memperkuat daya tahan desa di tengah ketidakpastian ekonomi nasional.
Kekuatan utama Pemalang terletak pada kemampuannya memadukan potensi alam dan kearifan lokal.
Desa Pulosari, misalnya, berhasil mengembangkan kopi lereng Slamet dengan konsep agroeduwisata yang melibatkan petani dan BUMDes.
Sementara Desa Penggarit menjadikan Festival Mangga Istana bukan hanya promosi buah unggulan, tetapi juga branding ekonomi desa.
Di sisi lain, Desa Bulakan dan Banyumudal mampu menggabungkan wisata alam dengan seni tradisi seperti kuda lumping dan sintren, memperkuat identitas budaya sekaligus memperluas pasar wisata.
Fenomena ini melahirkan karakter baru: desa beridentitas ganda, yang tidak sekadar menjual panorama, tetapi juga nilai budaya dan produk lokal.
Namun, jalan menuju kemapanan pariwisata desa masih panjang. Tantangan klasik masih membayangi:
- Akses jalan ke wilayah selatan seperti Banyumudal dan Gongseng masih terbatas.
- Kualitas SDM pengelola wisata belum merata, terutama di bidang digital marketing dan manajemen destinasi.
- Paket wisata antar-desa belum terintegrasi, padahal potensi wisata beruntun dari pantai hingga gunung sangat kuat untuk dijadikan rute tematik.
Jika arah kebijakan dan pola pengelolaan ini konsisten, Pemalang berpeluang menjadi model kabupaten wisata terpadu berbasis desa di Jawa Tengah.
Zona pesisir dapat difokuskan pada wisata bahari dan kuliner laut, wilayah tengah sebagai pusat budaya dan kuliner tradisional, sementara selatan dikembangkan untuk ekowisata dan agrowisata.
Efek ekonominya tidak hanya bagi desa, tetapi juga bagi rantai industri pendukung seperti pertanian, transportasi, hingga ekonomi kreatif. (Ep)
