Pemalang – Warna-warna lembut berpadu dengan motif khas laut, sawah, dan pegunungan. Di atas catwalk Pendopo Kabupaten Pemalang, beragam rancangan batik Pemalangan tampil menawan dikenakan para model dari seluruh kecamatan. Setiap langkah mereka bukan sekadar pertunjukan fesyen, melainkan juga menampilkan identitas dan kebanggaan lokal yang kini semakin kuat gaungnya lewat PDF Fest 2025.
Kegiatan PDF Fest 2025 atau PKK & Dekranasda Festival 2025 digelar pada Rabu (15/10) di Pendopo Kabupaten Pemalang. Dalam ajang ini, para perajin batik Pemalang menampilkan 10 kreasi terbaik mereka yang diperagakan oleh model utusan dari 14 kecamatan se-Kabupaten Pemalang.
Festival ini merupakan kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Pemalang, TP PKK, dan Dekranasda, yang bertujuan memberdayakan pelaku UMKM, memperluas jaringan pasar, serta menumbuhkan rasa cinta terhadap produk lokal.
Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda Kabupaten Pemalang, dr. Noor Faizah Maenofie Anom Widiyantoro, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan PDF Fest 2025 digelar sebagai upaya nyata untuk mengangkat potensi ekonomi kreatif masyarakat Pemalang, khususnya sektor batik dan kriya.
“Kegiatan ini bukan hanya ajang pameran karya, tetapi juga bentuk pemberdayaan. Kami ingin masyarakat semakin mencintai produk dalam negeri dan bangga mengenakan batik Pemalangan,” ujar dr. Noor Faizah.
Selain parade 10 batik kreasi, acara juga dimeriahkan dengan lomba desain batik dan lomba rancang busana batik Pemalangan, yang melibatkan berbagai pelajar, perajin, dan desainer muda daerah.
Sekilas Batik Pemalangan
Batik Pemalangan merupakan hasil perpaduan antara budaya pesisir utara Jawa dan kearifan lokal masyarakat Pemalang. Meskipun tergolong muda dibandingkan batik klasik seperti Pekalongan, Solo, atau Yogyakarta, batik Pemalangan terus berkembang dan memiliki identitas visual serta filosofi lokal.
Batik khas Pemalang ini hadir dengan corak yang menonjolkan kekayaan alam dan nilai-nilai kehidupan masyarakatnya. Beberapa motif unggulan yang telah dipatenkan dan menjadi ciri khas daerah antara lain Sawat Rantai, Kepedak, Gemek Setekem, Parang Curiga, Grombyang, Bunga Widuri, Nanas Madu, dan Watukumpul. Setiap motif memiliki makna simbolik yang menggambarkan keindahan alam, semangat kerja keras, serta kekayaan budaya Pemalang.
Batik Pemalangan mulai dikenal sekitar awal tahun 2000-an, ketika Pemerintah Kabupaten Pemalang bersama Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) dan sejumlah perajin lokal mulai mengembangkan identitas batik daerah sendiri. Kini, batik Pemalangan telah menjadi ikon kebanggaan daerah dan kerap tampil dalam festival nasional dan ajang pameran UMKM, termasuk PDF Fest dan Hari Batik Nasional.
Pemerintah daerah juga mendorong ASN, pelajar, dan masyarakat umum untuk mengenakan batik Pemalangan pada acara resmi, sebagai bentuk promosi dan pelestarian budaya. (An)
