Misteri Nanas Madu: Manisnya Tiada Tanding, Asalnya Hanya dari Satu Desa di Pemalang

“Nanas di sini (Desa Beluk) beda rasanya, lebih manis. Kalau tanam nanas di desa sebelah, hasilnya mirip tapi nggak sama ada asemnya. Jadi nyeberang sungai saja sudah beda rasa. gak tahu kenapa seperti itu,”

Pemalang – Di balik hamparan hijau perbukitan di Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, tersimpan satu misteri yang sudah bertahun-tahun membuat banyak orang penasaran: kenapa hanya nanas dari Desa Beluk di Kecamatan Belik yang bisa semanis madu, sementara dari desa lain rasanya cenderung asam, meski bibit dan bentuknya sama?

Masyarakat setempat menyebutnya “Nanas Madu Beluk”, buah yang kini menjadi ikon daerah dan kebanggaan Kabupaten Pemalang. Ukuran buah tidak terlalu besar bahkan cenderung kecil memiliki tekstur lembut dengan kadar airnya pas, rasa manisnya seperti madu alami, juga tak membuat gatal di tenggorokan seperti nanas pada umumnya.

Misteri di Balik Rasa Manisnya

Banyak petani mencoba mencari tahu apa rahasia nanas dari Beluk bisa semanis itu. Ada yang menduga karena kandungan mineral tanah vulkanik di lereng wilayah itu, ada pula yang mengatakan karena air tanah dan pola curah hujan yang unik di sekitar Beluk.

“Nanas di sini (Desa Beluk) beda rasanya, lebih manis. Kalau tanam nanas di desa sebelah, hasilnya mirip tapi nggak sama ada asemnya. Jadi nyeberang sungai saja sudah beda rasa. gak tahu kenapa seperti itu,” ujar Edy Suroyo, petani nanas asal Belik.

Upaya meniru kesuksesan nanas Beluk pun sempat terjadi besar-besaran. Ketika harga nanas madu melonjak dan jadi primadona di pasar buah, daerah-daerah sekitar seperti Randudongkal dan Belik ikut menanam nanas jenis yang sama. Tapi hasilnya tak pernah benar-benar identik. Bentuk boleh serupa, tapi rasa tak bisa disamakan. “Waktu awal booming, banyak warga di kecamatan tetangga yang nanam nanas tapi hasilnya beda meskipun bibit dan pupuknya sama. Akhirnya petani berhenti nanam dan mengganti lagi dengan tanaman lain,’ jelas Edy Suroyo.

Booming Nanas Madu dan Ekspansi ke Kota-Kota Besar

Fenomena nanas madu Beluk mulai popular keluar kota di awal 2010-an, ketika buah ini mulai menembus pasar di kota-kota besar di Pulau Jawa, mulai dari Jakarta, Bandung, Semarang, hingga Surabaya. Di sudut-sudut kota sering kita menemukan penjual nanas madu Pemalang, dengan sepeda motor yang melayani nanas kupas maupun bijian.

Dalam waktu singkat, nanas madu menjadi buah wajib di meja makan dan rak swalayan Bahkan buah ini menjadi favorit untuk “cuci mulut” di berbagai acara, dari pernikahan, selamatan, hingga acara gathering..

Menariknya, meskipun ukuran nanas madu Beluk relatif lebih kecil, harganya di tingkat pengecer luar kota tetap kompetitif, yakni di kisaran Rp8.000 hingga Rp10.000 per buah. Bahkan di beberapa toko buah premium, harganya bisa lebih tinggi karena dianggap buah khas dengan cita rasa eksklusif.

Kini, nanas madu bukan sekadar buah unggulan, tapi juga menjadi daya tarik wisata agrowisata. Banyak pengunjung datang ke Desa Beluk hanya untuk merasakan pengalaman memetik langsung nanas madu dari kebunnya. Tak sedikit pula influencer kuliner datang membuat konten di kebun nanas Beluk, mengabadikan sensasi menikmati nanas langsung dari batangnya. Pemerintah Kabupaten Pemalang bahkan mulai mengembangkan “Kampung Nanas Madu” sebagai destinasi wisata edukatif dan juga festival panen nanas tahunan.

Hingga kini, rahasia rasa manis nanas Beluk masih jadi misteri. Mungkin karena faktor alam, mungkin juga karena tangan-tangan petani yang sabar dan cinta terhadap tanahnya. Yang pasti, di tengah gempuran buah impor, nanas madu Beluk tetap berdiri sebagai buah lokal yang istimewa manisnya bukan hanya di lidah, tapi juga di hati para penikmatnya. (Ep)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *