Pemalang – Tak banyak orang mengenal nama Siti Soendari Darmobroto. Namun perempuan dari Pemalang ini menjadi pelopor yang menjadikan jurnalisme sebagai senjata untuk memperjuangkan hak-hak perempuan Indonesia pada awal abad ke-20.
Siti Soendari, yang lahir di Pemalang, Jawa Tengah, pada akhir abad ke-19, adalah salah satu tokoh perempuan awal yang menggunakan media massa sebagai wadah perjuangan.
Sejak muda, Soendari akrab dengan dunia pers. Ayahnya dikenal dekat dengan Tirto Adhi Soerjo (lahir 1880 – wafat 1918), yang dikenal sebagai “Bapak Pers Indonesia” sekaligus pendiri Medan Prijaji. Dari lingkungan itulah Soendari terbentuk: kritis, berani, dan yakin bahwa pena dapat menjadi alat pembebasan.
Wanito Sworo: Media untuk Perempuan
Pada 1913, Siti Soendari mendirikan koran Wanito Sworo—yang setahun kemudian berganti nama menjadi Sekar Setaman. Melalui media ini, ia menuliskan gagasan tentang pendidikan bagi perempuan, kesetaraan hukum, serta kritik terhadap poligami dan budaya patriarki.
Wanito Sworo bukan hanya ruang pribadi Soendari, tetapi juga wadah bagi perempuan lain untuk menyuarakan pendapat. Meski hanya bertahan satu tahun, kehadirannya membuka jalan bagi keterlibatan perempuan dalam dunia jurnalisme dan memperlihatkan bahwa suara perempuan bisa ikut mewarnai ruang publik.
Selain mengelola media sendiri, Siti Soendari aktif menulis di berbagai surat kabar seperti Poetri Hindia, Goentoer Bergerak, Medan Bergerak, dan Doenia Bergerak. Gagasan-gagasannya menyinggung isu pendidikan, perkawinan, hingga kritik terhadap struktur kolonial yang menempatkan perempuan sebagai warga kelas dua.
Pada 1916, Soendari bahkan tampil di panggung internasional. Dalam Kongres Pengajaran Kolonial Pertama di Den Haag, Belanda, ia berpidato mengenai pendidikan perempuan Indonesia. Ia mendorong penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar—yang kemudian berkembang menjadi bahasa Indonesia—sebagai bentuk perlawanan intelektual terhadap dominasi kolonial.
Perempuan, Pers, dan Emansipasi
Peran Siti Soendari menunjukkan bahwa jurnalisme bukan hanya milik kaum laki-laki. Ia memanfaatkan media massa untuk membuka kesadaran baru di tengah masyarakat yang masih terikat budaya patriarki.
Dengan sederhana namun kuat, Soendari menegaskan bahwa pena seorang perempuan mampu menggugat ketidakadilan dan membuka jalan bagi emansipasi. Jejaknya di Pemalang menjadi bagian penting dari mosaik panjang perjuangan perempuan Indonesia menuju kesetaraan.
Catatan: Artikel ini diolah dari hasil penelitian akademis berjudul Peran dan Perjuangan Siti Soendari Darmobroto dalam Memperjuangkan Hak-Hak Perempuan Indonesia, 1913-1914 karya Farhan Akbar, Yuni Maryuni, dan Muhammad Anggie Farizqi Prasadana.
