Pemalang – Adang Wijaya, sosok di balik suksesnya layanan Green Nitrogen yang kini tersebar di ratusan SPBU, ternyata bukan hanya seorang pebisnis. Pria asal Pemalang ini juga dikenal sebagai pegiat masjid sekaligus penulis buku Masjid Insight.
Green Nitrogen lahir dari ide sederhana: menyediakan isi angin nitrogen yang aman bagi ban kendaraan. Kini, usaha itu berkembang luas dengan ratusan outlet bahkan pernah menyentuh seribu outlet lebih. Namun bagi Adang, bisnis hanyalah jalan untuk memberi manfaat lebih banyak bagi orang lain.
“Bisnis itu jangan hanya mengejar untung, tapi harus ada keberkahan dan manfaat untuk banyak orang,” ucapnya dalam beberapa kesempatan.
Semangat berbagi inilah yang juga diwujudkannya melalui Yayasan Darussalam Kota Wisata di Cibubur, yang mengelola Masjid Darussalam. Dari pengalaman mengurus masjid, ia kemudian menuliskan sebuah buku berjudul Masjid Insight. Buku itu berisi praktik nyata tentang bagaimana manajemen masjid bisa dijalankan secara modern, profesional, dan bermanfaat luas bagi masyarakat.
Tidak hanya dalam bisnis, di masa pandemi COVID-19 pun Adang memilih untuk tetap mempertahankan karyawannya meski omset turun drastis. Ia percaya, membantu sesama di masa sulit justru akan melipatgandakan keberkahan.
Sebagai orang Pemalang, penulis ada rasa bangga ketika saya akhirnya berkesempatan bertemu langsung dengan Adang Wijaya di kantornya, Bekasi. Sosok yang namanya kerap saya dengar lewat kesuksesan Green Nitrogen, ternyata lebih sederhana dan bersahaja dari bayangan saya.
Di ruang kerjanya yang hangat, Adang menyuguhkan kopi yang diseduhnya sendiri. Sambil nyeruput kopi ia bercerita tidak hanya soal bisnis, tetapi juga tentang perjalanannya mengelola masjid dan menulis buku. Ia lalu memberikan saya cinderamata berharga: sebuah buku berjudul Masjid Insight.

“Buku ini saya tulis dari pengalaman langsung mengelola Masjid Darussalam. Saya ingin berbagi cara agar masjid tidak hanya jadi tempat ibadah, tapi juga pusat peradaban dan pemberdayaan umat,” kata Adang dengan penuh semangat.
Kami berbincang cukup lama. Dari kisah awal bisnis nitrogen, strategi berbasis silaturahim, hingga bagaimana ia melihat masjid sebagai pusat kebaikan. Saya pribadi merasa banyak belajar—bahwa bisnis dan ibadah bisa berjalan seiringan, saling melengkapi.
Puluhan tahun merantau di Jakarta, Adang Wijaya tetap menjaga akar dan nilai-nilai kampung halamannya. Sebagai sesama orang Pemalang, saya melihatnya bukan hanya pengusaha sukses, tapi juga teladan dalam menyatukan kerja keras, iman, dan manfaat untuk sesama.
Buku Masjid Insight kini menjadi salah satu koleksi pribadi yang paling berkesan. Lebih dari sekadar cinderamata, buku itu menjadi pengingat bahwa keberhasilan sejati adalah ketika hidup kita memberi arti bagi banyak orang. (Aa)
