Peran Forum Anak Pemalang dalam Mencegah Perkawinan Anak dan Stunting

Forum Anak akan berperan sebagai pencegahan perkawinan anak dan penurunan angka stunting di Kabupaten Pemalang. UNICEF INDONESIA

Pada tahun 2018, di Indonesia ada sekitar 1.220.900 perempuan yang waktu itu berusia 20-24 tahun menikah sebelum berumur 18 tahun, yang berarti ada 1 dari 9 anak perempuan menikah sebelum waktunya (belum legal usianya). Data ini berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Masyarakat (Susenas) yang dilakukan pada tahun itu.

Meskipun setiap tahun persentase perkawinan anak mengalami penurunan, tetapi penurunannya masih tergolong lambat, sehingga membuat Indonesia ditempatkan pada urutan ke-8 dengan jumlah perkawinan anak terbanyak di dunia.

Banyaknya praktik perkawinan anak ini juga bisa dilihat dengan meningkatnya permohonan dispensasi perkawinan di pengadilan agama. Dispensasi ini merujuk pada pemberian hak kepada seseorang untuk menikah meski belum mencapai batas minimum usia pernikahan.

Data dari Australia Indonesia Partnership for Justice (AIPJ) pada tahun 2018 menyebutkan bahwa Pengadilan Agama menerima permohonan dispensasi 20 kali lebih banyak dibandingkan dengan pada tahun 2005 (dari 631 perkara di tahun 2005 ke 13.880 perkara pada tahun 2018).

Anak perempuan, anak yang lahir dalam keluarga miskin, dan anak-anak di pedesaan dengan tingkat pendidikan rendah adalah kelompok-kelompok anak yang rentan menjadi korban terhadap maraknya perkawinan anak. Kebanyakan dari mereka memang tidak bisa melawan karena desakkan keluarganya. Akibatnya anak-anak ini harus menanggung beban yang luar biasa dari lingkungannya, tidak hanya mental tapi juga kesehatan.

Perkawinan anak sangat berhubungan dengan kesehatan si anak. Apalagi jika nantinya anak tersebut hamil, perlu diketahui, bahwa kehamilan pada usia kurang dari 17 tahun anak menimbulkan berbagai macam komplikasi baik bagi si ibu maupun sang anak.

Kehamilan di usia yang sangat muda ini berkorelasi dengan angka kematian dan kesakitan ibu. Disebutkan bahwa anak perempuan berusia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20-24 tahun, sementara risiko ini meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun.

Angka kematian ibu usia di bawah 16 tahun di negara-negara dengan pendapatan menengah dan rendah bahkan lebih tinggi hingga enam kali lipat. Komplikasi ini muncul karena anatomi tubuh anak belum siap untuk proses mengandung dan melahirkan.

Kehamilan pada usia yang belum matang berisiko pada kematian ibu dan bayi, kelainan pada bayi atau cacat bawaan lahir, tekanan darah tinggi dan bayi lahir prematur, bayi lahir dengan berat badan di bawah normal, penyakit menular seksual, dan depresi pasca-melahirkan.

Koordinasi Forum Anak akan Terus Dilakukan

Forum Anak di Kabupaten Pemalang merupakan salah satu forum yang dibentuk untuk menciptakan lingkungan positif bagi anak. Forum ini akan menjadi wadah pemenuhan hak partisipasi anak, sebagai Pelopor dan Pelapor (2P), sekaligus berperan sebagai pencegahan perkawinan anak dan penurunan angka stunting.

Kepala Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos KBPP) Kabupaten Pemalang Slamet Masduki, melalui Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, M Tarom mengatakan, perkawinan anak merupakan salah satu tantangan dalam pembangunan sumber daya manusia.

Hal ini dikarenakan perkawinan anak memiliki dampak yang multi aspek dan lintas generasi. Perkawinan anak dinilai sebagai pelanggaran hak anak yang dapat menghambat mereka dalam mendapatkan hak-haknya secara optimal yang akan menimbulkan berbagai permasalahan pada ibu dan bayinya.

Masalah yang paling sering ditemui pada bayi yang dilahirkan dari rahim ibu yang belum menginjak dewasa adalah BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) diartikan sebagai bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram.

Masalah BBLR ini dijadikan prediktor tertinggi angka kematian bayi, terutama dalam satu bulan pertama kehidupan. Berdasarkan studi epidemiologi, bayi BBLR mempunyai risiko kematian 20 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan bayi yang lahir dengan berat badan normal. Bayi yang lahir dengan berat badan di bawah maupun di atas batas normal berisiko mengalami sejumlah gangguan kesehatan.

Hal ini disampaikan Tarom dalam Rapat Koordinasi Wilayah Forum Anak se Eks Karesidenan Pekalongan di Ruang Kalijaga Setda Kota Pekalongan Jalan Mataram Nomor 1 Pekalongan, Selasa (17/5).

Tarom menilai, pernikahan usia dini berhubungan dengan peningkatan stunting, jika seorang mengalami kehamilan pada usia remaja maka akan berisiko terjadi stunting pada bayi nantinya. “Remaja yang masih pada masa pertumbuhan lalu mengalami kehamilan, maka akan terjadi perebutan gizi pada ibu dan janin,” ungkapnya.

Stunting adalah salah satu permasalahan kesehatan yang sering dihadapi anak di bawah lima tahun. Stunting dapat menyebabkan pertumbuhan anak menjadi lambat, rendahnya daya tahan tubuh dan kecerdasan yang kurang. BBLR adalah salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian stunting secara langsung

Sehingga tantangan bagi Forum Anak Kabupaten Pemalang sebagai pelopor dan pelapor adalah mencegah perkawinan usia anak dan stunting. Pengurus Forum Anak, Desi Afiani menuturkan dalam kegiatan tersebut pengurus Forum Anak perwakilan kabupaten/kota diminta untuk berdiskusi mengenai penyebab dan solusi perkawinan anak untuk mencegah isu tersebut.

Add Comment