Dua Inovasi Baru Disiapkan untuk Tingkatkan Hasil Produksi Tani

Dinas Pertanian Kabupaten Pemalang tengah menyiapkan dua inovasi baru yang diyakini bisa tingkatkan hasil produksi pertanian. JATENGPROV.GO.ID

Sektor pertanian memiliki pengaruh yang sangat besar dalam laju pertumbuhan ekonomi di setiap daerah, hal ini membuat sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian khusus agar bisa memberikan hasil yang maksimal setiap tahunnya. Karena jika kinerja sektor pertanian tidak produktif maka akan menghasilkan penurunan pertumbuhan ekonomi yang cukup signifikan.

Di Kabupaten Pemalang, sektor pertanian merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja paling besar. Di tahun 2017 angkatan kerja yang bekerja di daerah Pemalang sebesar 587.819 jiwa. Angkatan kerja yang bekerja tersebut terbagi di setiap sektor diantaranya; sektor pertanian sebesar 154.676 jiwa dengan memiliki 5 kontribusi sebesar 26,31 persen dari angkatan kerja yang bekerja, sektor perdagangan sebesar 104.947 jiwa, sektor industri sebesar 117.851 jiwa, sektor jasa sebesar 117.382 jiwa dan sektor lainnya sebesar 92.963 jiwa.

Pemerintah daerah tentunya memiliki strategi dan kebijakan masing-masing untuk membangun sektor pertanian. Saat ini pemerintah Kabupaten Pemalang dibawah naungan Dinas Pertanian tengah menyiapkan dua inovasi baru yang diyakini bisa meningkatkan hasil produksi pertanian di Kabupaten Pemalang.

Inovasi yang pertama merupakan rencana pengembangan pupuk organik cair melalui pemanfaatan limbah pertanian, inovasi ini kemudian diberi nama ‘Bang Poniras Minta Lahan’. Kadis Pertanian Kabupaten Pemalang, Wahadi menjelaskan inovasi berakronim Bang Poniras Minta Lahan merupakan usaha pengembangan Pupuk Organik Cair (POC) dengan memanfaatkan limbah rumah tangga berupa tempe dan nasi basi serta limbah pertanian berupa kulit nanas yang diproses dengan cara difermentasi.

Pemanfaatan limbah kulit nanas sebagai pupuk ini merupakan solusi yang diambil Pemkab Pemalang untuk mengatasi limbah kulit nanas di Desa Belik Kecamatan Belik yang sampai saat ini masih belum terolah dengan baik. Limbah organik tersebut kemudian akan diolah menjadi Pupuk Organic Cair (POC), yang memiliki manfaat untuk membantu memperbaiki struktur tanah, dan juga membantu merangsang pertumbuhan tanaman dan buah.

Setelah diolah, POC ini bisa diaplikasikan pada tanaman padi, sayuran, buah dan tanaman hias. POC dikemas dalam botol volume 1.000 ml berwarna kuning bening dengan bau seperti tape atau alkohol. Pengembangan POC sudah dilakukan di 14 kecamatan di Kabupaten Pemalang. Bahkan, penggunaan POC untuk tanaman padi sudah dilakukan sejak 2017 dan pada tahun 2019 mulai dicoba untuk tanaman tomat dan nanas.

Di awal tahun ini juga sudah dilakukan panen padi hasil pemupukan padi menggunakan POC di Desa Gunung Tiga Kecamatan Belik yang pada saat panen ditinjau langsung oleh Bupati Pemalang, Mukti Agung Wibowo. Saat ini POC yang diproduksi sudah memiliki hak cipta dan sudah melalui uji laboratorium.

Inovasi lainnya yang saat sedang dikembangkan adalah inovasi Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menggunakan Drone Sprayer dan Pestisida Hayati yang disebut ‘Ponakane Raden Dayat’. Inovasi ini akan menggabungkan pemanfaatan teknologi pertanian modern dengan pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan. Nantinya inovasi ini akan menjadi sarana penunjang kegiatan usaha tani secara modern, namun tetap ramah lingkungan.

Wahadi memaparkan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) menggunakan Drone Sprayer dan Pestisida Hayati adalah pengembangan teknologi pertanian. Bentuknya drone yang diterbangkan di area persawahan yang dilengkapi dengan penyemprot pestisida hayati dan dikendalikan menggunakan remote oleh penyuluh pertanian lapangan, yang ada di balai penyuluhan pertanian (BPP) kecamatan. Penggunaan drone dinilai sangat efisien, baik dari segi tenaga kerja maupun waktu.

Produktivitas komoditas pertanian di Pemalang penggunaan drone dilakukan untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan pestisida anorganik dan dampak yang ditimbulkan oleh residu dari penggunaan pestisida anorganik. Kemudian untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui kegiatan usaha tani yang ramah lingkungan.

Untuk menerapkan inovasi tersebut, saat ini masih dalam proses persiapan berupa bimtek atau pelatihan penggunaan drone sprayer dan sosialisasi penggunaan pestisida hayati di kecamatan-kecamatan dengan harapan pada bulan Juni sampai Oktober sudah dapat diimplementasikan di lapangan sehingga November sudah bisa diketahui hasil produktivitas pertanian dengan penggunaan drone untuk pengendalian OPT.

Kedua inovasi ini diungkapkan Kadis Pertanian Kabupaten Pemalang, Wahadi saat melakukan dialog interaktif di LPPL Radio Swara Widuri dalam program Jelajah OPD yang disiarkan secara langsung melalui frekuensi 87,7 FM, dan juga tayang pada streaming YouTube radio tersebut.

Add Comment