Tapak Tilas Kerajinan Sarung Tenun Goyor Desa Wanarejan Utara

Warga Kampung Tenun Sarung Goyor di Desa Wanarejan Utara. WANAREJANUTARA

Seni budaya tradisional yang muncul sejak bertahun-tahun lalu menghasilkan industri-industri kecil yang tumbuh di masyarakat, salah satunya adalah industri kerajinan. Industri kerajinan muncul dari tangan-tangan kreatif yang berhasil mengolah bahan mentah menjadi barang yang memiliki nilai jual, seperti tanah liat, kayu, kulit, logam, tekstil, dan bahan anyaman.

Industri kerajinan kecil-kecilan kemudian tumbuh dan berkembang di daerah-daerah pedesaan, salah satu kerajinan yang cukup berpengaruh dalam membantu perekonomian masyarakat pedesaan adalah kerajinan kain tenun, yang merupakan industri di bidang pertekstilan.

Tenun merupakan sebuah kain yang dihasilkan dari kerajinan benang. Kerajinan ini dibentuk dengan teknik pembuatan tradisional, menggunakan alat tenun tradisional dan diproduksi secara turun-temurun. Pengetahuan mengenai proses produksi tenun juga diwariskan secara turun-temurun, tidak diajarkan pada pendidikan formal.

Sejarah munculnya kain tenun sendiri sudah dimulai sejak masa kejayaan kerajaan Hindu-Budha pada zaman dahulu. Pada saat itu, Nusantara merupakan tempat persinggahan para pedagang dari negeri Cina, India, dan Arab.

Dalam prasasti Karangtengah, yang merupakan prasasti Jawa kuno, tertulis kemampuan menenun di Nusantara sudah ada sejak tahun 847 Masehi. Dalam prasasti itu tertulis kalimat ‘putih helai 1 (satu klambi)’ yang artinya pada zaman itu sudah ada kain putih dengan satu helai baju.

Selain itu terdapat cerita rakyat Sangkuriang, yang menceritakan dayang Sumbi dengan pekerjaan sehari-hari sebagai seorang penenun, cerita ini tertulis dalam umpak batu pada abad ke-14 yang tersimpan dalam museum Trowulan, Jawa Timur.

Kemudian pada abad ke-18 masyarakat Indonesia tercatat telah berhasil menguasai teknik penenunan, dengan menciptakan alat-alat tenun dan juga dengan teknik pewarnaannya, terutama pada daerah Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur.

Pada periode tersebut corak kain tenun sangat dipengaruhi oleh nilai religius masyarakat yang memuja para leluhur, sebagai keagungan alam. Kain tenun menjadi lambang ikatan solidaritas dan sarana identifikasi bagi setiap masyarakat. Selain itu motif kain tenun juga mengandung pesan-pesan moral dan sosial.

Kerajinan tenun di Indonesia kemudian semakin berkembang dengan munculnya berbagai jenis tenun dengan ciri khasnya masing-masing di tiap daerah. Beberapa yang populer diantaranya, tenun songket, tenun ikat, tenun lurik, tenun dobel ikat dan tenun jumputan. Seiring berjalannya waktu, kerajinan tenun mulai menyebar ke daerah-daerah di Indonesia salah satunya kota Pemalang.

Tasman, adalah seorang yang memperkenalkan sarung tenun kepada masyarakat Pemalang pada tahun 1942. Mulanya Tasman adalah seorang buruh tenun di Jepara, Pekalongan dan Solo. Kemudian ia pulang ke desanya sendiri, desa Wanarejan Utara, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang.

Ia pulang dengan membawa alat ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), yang merupakan alat untuk melakukan penenunan. Tasman kemudian membuat karya dari alat tersebut, yang kemudian membuat masyarakat lain merasa tertarik dan ingin belajar sebagai pengrajin tenun. Dengan memperoleh keterampilan yang cukup, masyarakat kemudian mulai memproduksi tenun sendiri, hasil tenun masyarakat desa Wanarejan kemudian dikenal dengan sarung tenun goyor.

Pada awalnya sarung tenun goyor hanya dipasarkan di Kabupaten Pemalang. Tahun 1960 kemudian pesanan sarung tenun goyor semakin meningkat hingga mencapai 1000 kodi, dan pesanan tersebut datang dari seluruh penjuru nusantara.

Tetapi semakin banyaknya permintaan, membuat para pengrajin tidak sanggup memenuhi pesanan tersebut, mereka kekurangan modal dan tenaga ahli. Hal itu membuat produksi sarung tenun goyor sempat terhenti, para pengrajin juga lebih memilih mencari pekerjaan lain. Aktivitas industri sarung tenun goyor kemudian berhenti secara total.

Tahun 1987 kemudian sentra industri sarung tenun goyor baru bisa bangkit kembali secara perlahan, dengan dibentuk dan ditetapkannya desa Wanarejan sebagai ‘Sentra Industri Sarung Tenun Goyor’. Kemudian mulai muncul kembali pengusaha-pengusaha kain tenun yang membuat perekonomian masyarakat bangkit. Perkembangan industri sarung tenun goyor kemudian mengalami permintaan produksi yang cukup tinggi.

Produk sarung tenun goyor juga mulai dipasarkan ke daerah Timur Tengah. Kain sarung tenun goyor memiliki ciri khasnya sendiri, yaitu kain yang digunakan dapat menyesuaikan dengan kondisi cuaca sekitar. Jika digunakan saat cuaca dingin, maka kainnya akan terasa hangat dan jika dipakai saat cuaca panas maka akan terasa dingin.

Oleh karena itu dapat produksi sarung tenun cocok untuk digunakan di daerah Timur Tengah. Kain tenun ATBM juga mulai dijadikan cinderamata bagi wisatawan yang berkunjung ke Pemalang. Selain itu, hasil tenun ATBM di Pemalang lebih dikenal sebagai kain lurik.

Semakin kesini sarung tenun goyor kemudian dijadikan sebagai salah satu ikon Kabupaten Pemalang, karena memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Wisatawan melihat proses pembuatan sarung tenun goyor terbilang unik, karena alat yang digunakan masih menggunakan alat tradisional yang disebut ATBM.

 

Bahan Bacaan :

Aniskuri, Lulu Fitria. 2020. ‘Perkembangan Sentra Industri Kerajinan Sarung Tenun Goyor dan Pengaruhnya Terhadap Kehidupan Sosial-Ekonomi Masyarakat Desa Wanarejan Utara Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang Tahun 2022-2017’. Skripsi. Universitas Diponegoro Semarang

Add Comment