Mengenal Baritan, Tradisi Sedekah Laut Masyarakat Pantai Kabupaten Pemalang

Pelaksanaan Tradisi Baritan di Kabupaten Pemalang. DKP.JATENGPROV

Indonesia merupakan negara yang kuat akan budaya, setiap daerah bahkan memiliki budaya dan tradisinya masing-masing. Mulai dari makanan khas daerah, rumah adat, pakaian adat, tarian tradisional, dan juga berbagai tradisi warisan leluhur yang masih diberdayakan sampai sekarang.

Tak terkecuali dengan Kabupaten Pemalang, Kabupaten Pemalang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang terletak di pantai utara Pulau Jawa. Secara astronomis, Kabupaten Pemalang terletak antara 109017’30” – 109040’30” BT dan 6052’30” – 7020’11” LS.

Ada banyak peninggalan sejarah dan tradisi di Pemalang yang masih diwariskan sampai sekarang. Sejarah keberadaan Pemalang juga dapat dibuktikan dengan temuan-temuan arkeologis pada masa prasejarah. Temuan itu berupa punden berundak dan pemandian di sebelah barat daya Kecamatan Moga. Patung Ganesha yang unik, lingga, kuburan, dan batu nisan di desa Keropak.

Kebudayaan sendiri merupakan hasil budi dan daya manusia yang tumbuh dan berkembang dalam suatu masyarakat, serta diperoleh secara turun-temurun dari nenek moyang sebelumnya dengan adat dan tradisi sebagai suatu unsur-unsur yang penting.

Kebudayaan dapat menunjukan ciri kepribadian manusia atau masyarakat pendukungnya, karena di dalamnya mengandung norma-norma dan tataran nilai-nilai yang dimiliki, kemudian dihayati oleh masyarakat pendukungnya.

Jika melihat kembali dalam catatan Rijklof van Goens dalam buku W. Fruin Mess pada abad ke-XVI, dalam catatan tersebut tertulis Pemalang sudah eksis sejak zaman itu, bahkan Pemalang merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa, yang pada saat itu dipimpin oleh pangeran atau raja.

Salah satu tradisi yang masih eksis dikalangan masyarakat pesisir adalah Tradisi Baritan. Tradisi Baritan adalah tradisi sedekah laut yang dilakukan dengan melarung sesaji menggunakan perahu kecil ke tengah laut. Tradisi ini sudah ada sejak zaman dahulu, dan dilestarikan secara turun temurun.

Tradisi Baritan ini merupakan upacara tradisi yang bertujuan untuk keselamatan masyarakat yang tinggal di daerah pesisir pantai, ritualnya juga mempunyai nilai-nilai budaya yang berfungsi sebagai pedoman yang dapat memberi arah orientasi bagi kehidupan masyarakat sekitar.

Tujuan utama dari diadakannya tradisi ini adalah sebagai bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil laut yang mereka peroleh sebagai mata pencaharian utamanya. Awal mula kemunculan tradisi ini karena masyarakat yang tinggal di daerah pesisir hidupnya bergantung pada hasil laut, sehingga mereka merasa perlu mengadakan upacara tradisi sebagai bentuk rasa syukur dan terima kasih kepada sang pencipta.

Para nelayan yang telah memberikan sesaji ke laut kemudian berharap diberikan kebaikan ketika mereka mencari ikan di laut, seperti memperoleh banyak ikan dan dijauhkan dari marabahaya.

Tradisi ini dilakukan setahun sekali, setiap Selasa atau Jumat di awal bulan Sura (kalender Jawa), dan dilakukan oleh warga di Desa Asemdoyong yang berada di Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang.

Prosesi Pelarungan Sesaji yang Dinantikan Warga

Pelarungan Sesaji dilakukan dengan menata sesaji secara rapi di dalam jolen yang sudah dihias. Jolen sendiri merupakan miniatur kapal yang di dalamnya berisi sesaji. Sesaji dalam Tradisi Baritan terdiri dari: kepala kerbau, kemenyan, pisang tujuh rupa, kupat lepet, bubur merah putih, cabai merah dan bawang merah, telur ayam, kendhi, emas dan perlengkapan rias, ponggol (nasi bungkus), kembang, tumpeng dan lauk-pauk.

Sebelum acara pelarungan dilakukan, biasanya akan ada pembacaan doa terlebih dahulu yang dihadiri oleh seluruh tokoh masyarakat, seperti pejabat, tokoh agama, nelayan dan warga sekitar. Pembacaan doa dan tahlil menyertai upacara ini dengan maksud agar pelaksanaan upacara dapat berjalan lancar, selamat dan tidak menyimpang dari aturan agama.

Setelah pembacaan doa, barulah jolen atau miniatur kapal yang sudah ditata dibawa ke tepi laut untuk dilarungkan. Panitia Baritan akan memberikan nomor undian kepada tiap pemilik jolen, untuk menentukan jolen mana dulu yang akan dilarungkan.

Jolen tersebut kemudian diangkat oleh para nelayan menuju ke tepi laut, kemudian dilarungkan dan akan diiringi oleh kapal-kapal yang membawa pengunjung. Kapal yang mengiringi sesaji sesampainya di tengah laut akan saling menabrakkan kapalnya kemudian sirat-siratan air (memercikkan air) antara pengunjung kapal yang satu dengan kapal yang lain.

Setelah dilarungkan, pengunjung kemudian akan saling berebut mengambil makanan yang ada di dalam jolen untuk dimakan. Prosesi inilah yang disukai warga, karena sudah menjadi kepercayaan apabila memakan makanan sesaji apa yang diinginkan bisa tercapai.

Saharani, Karima. 2019. ‘Kepercayaan Masyarakat Pantai terhadap Tradisi Baritan di Kabupaten Pemalang’. Research Gate. h. 1-5. Universitas Sebelas Maret.

Bahan Bacaan

Saharani, Karima. 2019. ‘Kepercayaan Masyarakat Pantai terhadap Tradisi Baritan di Kabupaten Pemalang’. Research Gate. h. 1-5. Universitas Sebelas Maret.

Add Comment