Tanda Tangani MoA dengan IIUM, STIT Pemalang Siap Go Internasional

Foto bersama ketika kunjungan ke IIUM. Sumber: STIT Pemalang.

Paduraksa – Memorandum of Agreement (MoA) tersebut ditandatangani pada bulan Juli kemarin di kampus Internasional Islamic University Malaysia (IIUM). Kerjasama yang dijalin meliputi student exchange, joint research dan pertukaran mahasiswa maupun dosen. Diharapkan dengan adanya kerjasama dengan luar negeri, bisa meningkatkan kualitas mahasiswa dan dosen dalam mengajar maupun penelitian.

“Ini untuk menyiapkan mahasiswa STIT Pemalang agar dapat merasakan pengalaman di dunia internasional sehingga lebih adaptif dan kompetitif saat bersaing di dunia profesional ataupun di dunia bisnis. Sehingga mahasiswa harus mencari peluang dan ilmu yang bisa dikembangkan di Indonesia,” ujar Sekretaris Yayasan LP2SDKI, Heriyanto S. Sos..

Dilansir dari laman resmi STIT Pemalang, pihaknya akan terus melakukan kerjasama dengan negara lainnya seperti Thailand, Mesir dan sebagainya. Hal tersebut menandakan STIT Pemalang siap untuk Go Internasional.

Internasionalisasi Perguruan Tinggi

Mantan Kepala Kantor Urusan Internasional Universitas Indonesia, Junaidi menuturkan adanya kerja sama internasional antar universitas selalu berkaitan dengan pengakuan akan kualitas pendidikan, potensi sumber daya manusia, dan regulasi yang sedang berlaku.

Pemerintah Indonesia sendiri turut mendorong untuk perguruan tinggi go internasional lewat UU No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi. Pasal 50 Ayat 4 undang-undang ini tertulis hubungan kerjasama dengan luar negeri dilakukan dalam hal kegiatan penyelenggaraan Pendidikan yang bermutu, pengembangan pusat kajian Indonesia dan budaya lokal pada Perguruan Tinggi di dalam dan di luar negeri, pembentukan komunitas ilmiah yang mandiri.

Menurut Ferisman Tindaon seorang alumni DAAD dan Staf Pengajar Universitas HKBP Nommensen Medan, internasionalisasi pendidikan bertujuan untuk. meningkatkan kualitas pendidikan sehingga setara dengan kualitas pendidikan internasional. Namun kenyataannya dikancah internasional, kualitas sumber daya manusia Indonesia di ASEAN masih berada pada peringkat ke 34.

Data World Economic Forum, posisi daya saing Indonesia tahun 2014-2015 berada pada urutan ke 34 dari 144 negara yang disurvei. Sementara Thailand berada pada urutan ke 31, Malaysia ke 20 dan Singapura pada urutan ke 2.

“Memang internasionalisasi pendidikan tinggi tidak semudah yang dibayangkan karena membutuhan beberapa hal yang mendasar yaitu: Standarisasi dan harmonisasi kurikulum,harmonisasi riset dan industri dan peningkatan publikasi internasional. Sehingga internasionalisasi pendidikan tinggi tidak hanya sebatas dalam bentuk Memory of Understanding (MOU),” terang Ferisman Tindaon.

“Namun sering kali kesuksesan dan keberlanjutan kerja sama internasional lebih banyak ditentukan oleh hubungan personal antar pelakunya daripada hubungan formal antar lembaga. Diplomasi di meja makan jauh lebih penting daripada pertemuan formal,” papar Junaidi.

Add Comment