Menuju Smart City, Kabupaten Pemalang Pamerkan 5 Master Plan

Kabupaten Pemalang tampil dalam acara Menuju 100 Smart City. Sumber: Pemkab Pemalang.

Jakarta – Kabupaten Pemalang turut tampil di pameran Gerakan Menuju 100 Smart City 2019 yang digelar di Balai Sudirman Jakarta. Kabupaten ini beserta 74 pemerintah kab/kota lainnya menunjukan inovasi teknologi smart city masing-masing untuk selanjutnya diharapkan bisa menjadi contoh bagi daerah lain.

Sampai pada periode 2017-2018, sudah ada 75 pemerintah kab/kota yang telah menyusun master plan (rencana induk) pada daerahnya. Nah tahun 2019 ini pemerintah pusat telah memilih 25 peserta lagi untuk dibimbing dalam penyusunan master plan smart city.

Dilansir dari laman Pemkab Pemalang, master plan yang dipamerkan Kabupaten Pemalang antara lain peralatan e-Votting, Sicemerlang, program Jamila asik, Siva test, pelayanan kependudukan dan pariwisata. Pemaparan master plan ini diberikan oleh Nugroho Budi Raharjo, Penjabat Sekda Kabupaten Pemalang.

Acara yang digelar pada tanggal  4-6 November ini digambarkan Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate seperti sebagai upaya optimalisasi infrastruktur internet sampai pelosok Indonesia.

“Smart City tidak bisa dibangun dalam sehari melalui program ini harus dilaksanakan secara berkelanjutan. Harapannya, pemda dapat meningkatkan pelayanan yang lebih baik dan menggenjot konsumsi produksi masyarakat dengan marketplace,” pintanya.

E-Voting Pemalang Pertama di Pulau Jawa

Menurut Burhanudin Firmansyah, e-voting merupakan pelaksanaan pemungutan suara yang dilakukan secara elektronik (digital) mulai dari proses pendaftaran pemilih, pelaksanaan pemilihan, penghitungan suara, dan pengiriman hasil suara. Penerapan E-Voting diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang timbul dari pemilu yang diadakan secara konvensional.

Pelaksanaan pemilihan umum dengan sistem e-voting sebenarnya sudah dilakukan Kabupaten Boyolali terlebih dahulu pada tahun 2013. Pemalang sendiri baru menerapkan sistem e-voting pada tiga tahun terakhir, tepatnya tanggal 25 September 2016.

Bedanya, e-voting di Pemalanglah yang pertama kali menggabungkannya dengan e-verifikasi. Sistem tersebut menggunakan KTP elektronik sebagai alat untuk memverifikasi. Sementara sistem ini hanya digunakan untuk pemilihan kepala desa (pilkades).

Menurut pakar Smart City Winarno, lewat smart city bisa menciptakan lingkungan yang asri dengan teknologi pengolahan limbah yang lebih maju. Selain itu juga bisa menjadi daya tarik tersendiri untuk kota tersebut.

“Tujuan kota pintar juga dapat mendatangkan wisatawan sebanyak mungkin, menarik investor agar berinvestasi di kota ini, kemudian menarik penghuni baru, bagaimana penghuni baru dari kalangan baik profesional, akademisi, dan usahawan bertempat tinggal di kota kita. Kesemuanya itu tolak kukur nya adalah kota tersebut memiliki daya tarik yang kuat,” kata Winarno.

Tak khayal bila banyak pemerintah daerah lain melakukan kunjungan ke Pemalang. Kunjungan tersebut untuk mempelajari sistem e-voting tersebut. E-voting diklaim lebih menghemat anggaran untuk pilkades karena tidak membutuhkan banyak kertas serta tingkat kecurangan lebih minim.

Add Comment