Diskominfo Launching Radio Streaming Sekaligus Bimtek Jurnalistik

Diskominfo Kabupaten mengadakan bimtek jurnalistik bagi PIC, OPD, wartawan dan masyarakat. Sumber: Humas Pemkab Pemalang.

Pemalang – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Pemalang mengadakan bimtek jurnalistik bagi PIC, OPD, wartawan dan masyarakat. Pada acara yang sama, pihaknya juga melaunching streaming Radio Swara Widuri. Acara tersebut digelar di salah satu hotel di Kabupaten Pemalang, Mei lalu.

Menurut Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pemalang, Drs. Nugroho Budi Raharjo, M. M., keterampilan jurnalistik tidak hanya dikuasai insan pers saja namun  juga petugas informasi juga harus menguasainya.

“Bimtek dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan menulis bagi aparatur sipil negara. keterampilan menulis sangat penting dilakukan karena PIC, berkewajiban mempublikasikan program kegiatan masing-masing OPD. Diskominfo juga berupaya membuat sebuah terobosan yaitu radio streaming, dengan situs dan aplikasi yang dapat diunduh melalui geogle play store, agar materi siarannya dapat diakses oleh masyarakat Indonesia,” ujar Kabid PIKP, Laela Fadilah.

Dilansir dari laman resmi Pemkab Pemalang, acara bimtek tersebut menghadirkan dua narasumber yakni wartawan Harian Wawasan( Probo Warasto ) dengan materi “Menulis di Media Cetak” dan wartawan www.puskapik.com ( Heru Prabowo) dengan materi ”Menulis di Media Online”.

Berkembangnya Jurnalisme Warga

Kemajuan teknologi yang tak bisa dibendung tentunya akan melahirkan media-media baru. Contoh sederhananya media cetak koran yang tergeser dengan media massa audio visual televisi dan mungkin tak mungkin nantinya Tv juga akan tergeser oleh media online. Orang akan dengan mudah mendapat informasi lewat media online. Selain itu, saat ini juga sedang hangat-hangatnya mengenai citizen journalism atau jurnalisme warga.

Menurut Firmasyah S. Hamdani dalam bukunya Panduan Jurnalisme Warga untuk Mendorong Peningkatan Pelayanan Publik, istilah Jurnalisme Warga atau citizen journalism mengacu pada peran aktif masyarakat dalam proses pengumpulan, pelaporan, penganalisisan, dan penyajian berita.

Sementara menurut Nurudin, jurnalisme warga dapat dimaknai sebagai keterlibatan warga dalam memberitakan sesuatu. Seseorang tanpa memandang latar belakang pendidikan, keahlian, dapat merencanakan, menggali, mencari, mengolah, melaporkan informasi (tulisan, gambar, foto, tuturan), kepada orang lain. Jadi setiap orang bisa jadi wartawan.

Meski awam dan tidak mengetahui secara rinci mengenai jurnalistik namun keberadaan jurnalisme warga sangat membantu warga lainnya. Jurnalisme warga dianggap mampu menjadi lidah aspirasi warga lainnya walaupun dengan kemasan yang sangat sederhana. Hal tersebut serupa dengan yang dikatakan salah seorang anggota Dewan Pers, Bambang Harymurti. Ia menilai kehadiran jurnalisme warga mempertegas perubahan ke arah demokratisasi informasi. Kekuatan rakyat secara kolektif semakin menentukan kebenaran informasi yang disebarluaskan.

Kemunculan jurnalis warga tentunya menuai pro dan kontra. Beberapa pihak menilainya akan membawa angin segar demokrasi namun sebagian lagi menganggap ini sebagai ancaman. Hal tersebut serupa dengan yang dikatakan Galuh A. Savitri, S. I. Kom., M. I. Kom., kehadiran jurnalis warga bisa menjadi ancaman serius bagi jurnalis profesional. Hal itu karena ketika mereka telah mampu menuliskan berita meski sangat sederhana berarti mereka dianggap mampu dan bisa menyampaikan informasi setara dengan jurnalis profesional.

Add Comment