Apel Akbar, RSUD dr. M. Ashari Kabupaten Pemalang Lakukan Simulasi Cuci Tangan, BHD dan APAR

Simulasi bantuan hidup dasar oleh pemandu. Sumber: RSUD dr. M. Asharri Pemalang.

Bojongbata – Apel tersebut dipimpin oleh Direktur RSUD dr. M. Ashari Kabupaten Pemalang, dr. Sunardo Budi Santoso, Sp. THT-KL., M. Kes.. Beliau mengecek berkas dokumentasi untuk penilaian akreditasi Selasa kemarin.  Digelar di depan gedung Komite Medis pada Sabtu (2/11/2019) kemarin, apel juga diwarnai dengan beberapa simulasi yang dipandu oleh Tim Komite PPI ( Pencegahan dan Pengendalian Infeksi).

“Dokumentasi dan kesiapan dilapangan, jangan sampai ada yang ketinggalan. Hari selasa tanggal 5 s.d 8 Nopember 2019 sudah mulai penilaian akreditasi oleh Tim Surveyor dari KARS,” tegas dr. Sunardo Budi Santoso.

Dilansir dari laman RSUD dr. M. Ashari, simulasi pertama setelah apel adalah cuci tangan. Simulasi ini dilakukan dengan semboyan “tepuk selaci puput” atau telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, kunci dan putar-putar ibu jari dan ujung jari.

Kemudian dilanjutkan dengan simulasi BHD (bantuan hidup dasar), simulasi ini dimaksudkan agar seluruh pegawai rumah sakit dapat menolong apabila ada orang yang pingsan. “Pertama lindungi/amankan diri kita, lingkungann dan orang yang jatuh. Lalu cek kesadaran dengan cara menepuk pundak dan memanggil pak/bu. Kemudian cek nadi di leher. Minta tolong orang disekitar untuk memanggil tim code blue. Dan terakhir lakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru) sampai tim code blue datang dan mengambil alih pertolongan,” terang pemandu.

Terakhir, simulasi penggunaan APAR (alat pemadam api ringan). Simulasi ini dikenal dengan sistem TATA (Tarik-Arahkan-Tekan-Ayunkan). “Apabila api tidak bisa dipadamkan dan menjadi besar maka harus lapor ke bagian satpam dan satpam akan meneruskan ke bagian K3RS dan ditindaklanjuti dengan memanggil pemadam kebakaran,” ungkapnya.

Pentingnya Mengetahui Bantuan Hidup Dasar (BHD)

Scott Frame dalam buku PHTLS : Basic And Advanced Prehospital Trauma Life Support  menyatakan bahwa bantuan hidup dasar (BHD) dapat diajarkan kepada siapa saja. Hal serupa juga disampaikan oleh Resusitacion Council, “Semua lapisan masyarakat seharusnya diajarkan tentang bantuan hidup dasar terlebih bagi para pekerja yang berkaitan dengan pemberian pertolongan keselamatan.”

BHD ini adalah  pertolongan medis yang paling sederhana, seperti melakukan pertolongan kepada pasien korban henti jantung maupun nafas. Umumnya, orang yang pertama kali menemukan korban tersebut bukannya orang yang ahli mengenai medis yang secara kebetulan berada dekat dengan lokasi.

Sementara itu dr. Eko S Nugroho, M. P. H. selaku direktur Rumah Sakit Mekar Sari Bekasi menyebutkan hilangnya nyawa seseorang karena saat nyawanya terancam tidak ada pertolongan pertamanya. “Kasus korban meninggal di tol Brexit itu karena keterlambatan penanganan yang disebut Bantuan Hidup Dasar‎, terhadap orang yang sedang terancam nayawa,” terangnya.

Oleh karena itu dengan pengetahuan seputar BHD diharapkan masyarakat menjadi paham apa yang perlu dilakukan pertama kali dalam menangani korban pingsan maupun henti jantung dan nafas. Sehingga resiko hilangnya nyawa dapat dihindari sampai bantuan medis datang.

Add Comment