Upayakan Kerukunan Umat Beragama, Kudaifah: Ini Urusan Bersama

Kepala Kemenag Kabupaten Pemalang menyampaikan materi. Sumber: Kemenag Kabupaten Pemalang.

Mulyoharjo – Guna memupuk kerukunan umat beragam, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menggelar rapat koordinasi dan temu tokoh lintas majlis agama Kabupaten Pemalang di Vihara Para Maitreya Pemalang, September lalu. Kegiatan ini sejalan dengan visi Kementrian Agama (Kemenag) yakni mewujudkan masyarakat Indonesia yang agamis sehingga bisa menciptakan suasana rukun dalam perbedaan agama.

“Siapapun masyarakat yang meresapi nilai agama maka akan terpancar kemuliaan, berperilaku santun, saling menolong. Karena semua agama mengajarkan kebaikan, dengan subyektivitas kebenaran menjadi hak individu. Dalam agama Islam, sebaik-baik orang adalah yang memberi kontribusi positif bagi orang lain, dan tidak hanya dibatasi kepada sesama muslim,” kata Kudaifah, Kepala Kemenag Kabupaten Pemalang.

Menurutnya, terciptanya kerukunan beragama bukannya urusan pemerintah semata namun juga merupakan tugas kita bersama. Seperti dilansir dari web Kemenag Kabupaten Pemalang, dinasnya sudah berupaya dalam menciptakan kerukunan beragama seperti melalui penyelenggaraan dialog antar umat beragama guna memperoleh pemahaman agama yang multikultural. Kemudian dengan pemberdayaan FKUB Kabupaten Pemalang.

“Saya menghimbau untuk terus menjaga kerukunan yang telah terjalin di Pemalang, menghindari dan menahan diri dari segala ucapan dan tindakan yang bernuansa SARA. Kewajiban kita semua untuk melakukan tindakan preventif agar kekacauan tidak terjadi di Pemalang melalui pembinaan agama kepada kalangan muda yang diintensifkan, selanjutnya peduli dengan lingkungan kita masing-masing, jika ada yang mencurigakan jangan ragu menghubungi pihak berwajib,” tambahnya.

Mudatsir Mas’ud selaku Ketua FKUB Kabupaten Pemalang turut mengimbau masyarakat untuk tidak berprinsip “paling” dan utamakan prinsip “saling” dalam keberagaman. “Jangan punya prinsip ‘paling’, paling benar, paling kuat tapi hendaknya berprinsip ‘saling’, saling membantu, saling membina. Perbedaan ada dimana-mana, perbedaan bukan alergi, perbedaan adalah aset yang harus dikelola. Mari kita jaga bersama-sama menjaga kerukunan di Pemalang,” tutur Mudatsir.

Intoleran Indonesia Masih Tinggi

Menurut Heldred Geertz, Indonesia memiliki lebih dari tiga ratus etnis, masing-masing etnis memiliki budayanya sendiri dan lebih dari dua ratus lima puluh bahasa yang digunakan, dan hampir semua agama besar dunia terdapat di dalamnya selain dari ragam agama asli itu sendiri.

Terlebih survei dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menunjukan angka intoleransi beragama di Indonesia, khususnya generasi Z (kelahiran tahun 1995-2010) masih cukup tinggi, yakni mencapai 23,3% untuk mahasiswa dan 23,4% untuk pelajar SMA. Tentunya akan sulit menciptakan kerukunan diantara masyarakat Indonesia jika tidak diupayakan bersama. Adanya toleransi dirasa mampu menjadi penengah keberagaman Indonesia. Toleransi disini berarti saling menghargai, saling menghormati dan saling memahami perbedaan pada masing-masing agama.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa turut angkat bicara mengenai intoleran di Indonesia. Menurutnya, jika tokoh agama baik intern maupun antar umat beragama sering berdialog dan bersilaturrahim, maka kesepahaman lebih mudah diwujudkan, akhirnya terbangun saling percaya (mutual trust) dan saling menghormati (mutual respect).

Add Comment